Pengertian Manusi Dan Alam Semesta

A.    MANUSIA DAN ALAM SEMESTA
Sesungguhnya dilihat dari sudut pandang manusia, yang ada adalah Allah dan Alam (semesta).Allah pencipta, sedangkan alam yang diciptakan. Alam adalah segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindera, perasaan dan pikiran, kendatipun samar-samar. Mulai dari partikel atau zarrah yakni bagian benda yang sangat kecil dan berdimensi sampai kepada jasad (tubuh) yang besar-besar dari yang inorganik sampai yang organik (berkaitan dengan zat yang berasal dari makhluk hidup, seperti minyak dan batu bara), dari yang paling sederhana susunan tubuhnya sampai kepada yang kompleks seperti tubuh manusia. Ruang dan waktu adalah alam. Juga manusia termasuk alam atau bagian dari alam semesta.                                                                                                 Sebelum Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama, alam semesta telah diciptakan-Nya dengan tatanan kerja yang teratur, rapi dan serasi. Keteraturan, kerapian dan keserasian alam semesta dapat dilihat pada dua kenyataan.                                                                                     Pertama,berupa keteraturan, kerapian dan keserasian dalam hubungan alamiah antara bagian bagian di dalamnya dengan pola saling melangkapi dan mendukung. Misalnya, apa yang diberikan matahari untuk kehidupan alam semesta. Selain berfungsi sebagai penerang di waktu siang, matahari juga berfungsi sebagai salah salah satu sumber energi bagi kehidupan.                                                 Kedua, keteraturan yang ditugaskan kepada malaikat untuk menjaga dan melaksanakannya.Kedua hal itulah yang kemudian membuat berbagai keserasian, kerapian dan keteraturan yang kita yakini sebagai Sunnatullah yakni ketentuan dan hokum yang ditetapkan Allah. Melalui Sunnatullah inilah, bumi dan alam semesta dapat bekerja secara sistemik (menurut suatu cara yang teratur dan rapi) dan berkesinambungan, tidak berubah-ubah, tetap saling berhubungan , berketergantungan  dan sekaligus secara dinamis saling melengkapi. Alam semesta diciptakan Allah dengan hukum-hukum yang  berlaku baginya  yang kemudian diserahkan-Nya kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan. Pengelolaan dan pemanfaatan alam semesta besarta semua isinya dipercayakan Allah kepada manusia yang merupakan bagian alam semesta itu sendiri. Manusia yang beri “wewenang” mengelola dan memanfaatkan alam semesta diberi kedudukan “istimewa” sebagai khalifah. Khalifah harfiahnya adalah pengganti atau wakil. Menurut ajaran Islam, manusia, selain sebagai abdi diberi kedudukan sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam semesta terutama mengurus bumi ini. Agar dapat menjalankan kedudukan itu, manusia diberi bekal berupa potensi di antaranya adalah akal yang melahirkan berbagai ilmu sebagai alat untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta mengurus bumi. Ketika Adam sebagai manusia diangkat menjadi menjadi khalifah di bumi, Allah mengajarkan kepadanya ilmu pengetahuan tentang “nama-nama (benda)”. Dalam bagian pertama ayat 31 surat al-Baqarah, Allah menyatakan, “Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama(benda) seluruhnya…”pengetahuan yang diajarkan Allah kepada Adam ini merupakan keunggulan komparatif manusia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal dan ilmu yang dikuasainya manusia akan mampu menjalankan kedudukannya sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta mengurus bami ini untuk kepentingan hidup dan kehidupan manusia serta makhluk lain di lingkungannya. Dan, untuk pelaksanaan kedudukannya itu, manusia akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Manusia akan ditanya apakah dalam menjalankan ‘amanat’ yang dipercayakan kepadanya itu, ia mengikuti dan mematuhi pola dan garis-garis besar kebijaksanaan yang diberikan kepadanya melalui para nabi  dan rasul yang termuat dalam ajaran agama.                                                                                             
.       B..     MANUSIA MENURUT AJARAN ISLAM

Manusia adalah makhluk yang sangat menarik. Oleh karena itu, ia telah menjadi sasaran studi sejak dahulu, kini dan kemudian hari. Ini terbukti dari banyaknya penamaan manusia, misalnya homo sapien (manusia berakal), homo economicus (manusia ekonomi) yang kadangkali disebut economic animal (binatang ekonomi), dan sebagainya.Alquran tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok binatang (animal) selama manusia mempergunakan akalnya dan karunia Tuhan lainnya. Namun, kalau manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Tuhan yang sangat tinggi nilainya yakni, pemikiran, hati, jiwa, raga, serta pancaindera secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan dan seperti yang dinyatakan Allah  di dalam Alquran  surat al-A’raf, ayat 179: yang terjemahanya (kurang lebih) sebagai berikut:,…”mereka (maksudnya manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), punya telinga tetapi tidak mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan bahkan lebih rendah (lagi) dari binanang.” Di dalam Alquran, manusia disebut antara lain dengan bani Adam (QS. Al-Isra (17):70), basyar (QS. Al-Kahfi(18):110), al-insan (QS. Al-Insan(76:1), an-Nas (QS. An-Nas(114;1). Berbagai rumusan tentang manusia telah pula diberikan orang. Salah satu diantaranya, berdasarkan studi isi Alquran dan hadis, berbunyi(setelah disunting) sebagai berikut: al-Insan (manusia) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah), dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggungjawab atas segala perbuatannya dan berakhlak. Bertitik tolak dari rumusan singkat itu, menurut ajaran Islam, manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain, mempunyai berbagai cirri, antara lain ciri utamanya adalah:
1.  Makhluk yang paling unik(tersendiri dari bentuk dan jenisnya; lain dari yang lain), dijadikan dalam bentuk yang baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna. “Sesungguhnya kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,”
2.      Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah. Sebab sebelum ruh (ciptaan) Allah dipertemukan dengan jasad di rahim ibunya, ruh yang berada di alam gaib itu ditanya Allah, apakah mereka mengakui Allah sebagai Tuhan mereka? (“alastu bi rabbikum?: apakah kalian mengakui Allah sebagai Tuhan kalian?”). serentak dan semuanya mengakui Allah sebagai Tuhan mereka(“Balaa syahidnaa: Ya, kami akui (kami saksikan) Engkau adalah Tuhan kami”). (QS. Al-A’raf(7):172).
3.    Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Tugas manusia untuk mengabdi kepada Allah dengan tegas dinyatakan-Nya dalam Alquran surat az-Zariat(51):56) terjemahannya (lebih kurang) sebagai berikut,”Tidak kujadikan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.”
4.    Manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya. Di dalam surat al-Baqarah(2):30 dinyatakan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Perkataan “menjadi khalifah” dalam ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah menjadikan manusia wakil atau pemegang kekuasaan-Nya mengurus dunia dengan jalan melaksanakan segala yang diridhai-Nya di muka bumi. Untuk dapat melaksanakan tugasnya menjadi kuasa atau khalifah Allah, manusia diberi akal pikiran dan hati, yang tidak diberikan kepada makhluk lain.
5.      Di samping akal, manusia dilengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau kehendak. Dengan dan kehendaknya manusia akan tunduk dan patuh kepada Allah, menjadi muslim; tetapi dengan akal dan kehendaknya juga manusia dapat tidak percaya, tidak tunduk dan tidak patuh kepada kehendak Allah, bahkan mengingkari-Nya (kafir). Karena itu, di dalam surat al-Kahfi(18):29 Allah menegaskan (yang terjemahan artinya lebih kurang),…”Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barangsiapa yang beriman hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang tidak ingin beriman, biarlah ia kafir.”
6.   Secara individual, manusia bertanggungjawab atas segala perbuatannya. Ini dinyatakan Tuhan dalam firman-Nya dalam surat at-Thur(52) ujug ayat 21 yang terjemahannya (lebih kurang) sebagai berikut:…”Setiap orang (manusia) terikat (dalam artian bertanggungjawab) terhadap apa yang dilakukannya.”
7.  Berakhlak. Berakhlak adalah ciri utama manusia dibandingkan dengan makhluk lain. Artinya, manusia adalah makhluk yang diberi Allah kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Dalam Islam kedudukan akhlak sangat penting, menjadi komponen ketiga dalam agama Islam. Kedudukan ini dapat dilihat dari Sunnah Nabi yang mengatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Suri teladan yang diberikan Nabi semasa hidupnya merupakan contoh yang seyogyanya diikuti oleh umat Islam.

      C.   AGAMA:  ARTI DAN RUANG LINGKUPNYA

                   Perkataan agama berasal dari bahasa sangsekerta yang erat hubungannya dengan agama hindu dan budha. Dalam bahasa Bali, perkataan agama, igama dan ugama mempunyai makna berikut; Agama artinya peraturan, tata cara, upacara hubungan manusia dengan raja; igama artinya peraturan, tata cara, upacara dalam berhubungan dengan Dewa-Dewa; sedangkan ugama ialah peraturan, tata cara dalam berhubungan antarmanusia. Ketiga kata itu kini dipakai dalam tiga bahasa: agama dalam bahasa Indonesia, igama dalam bahawa Jawa dan ugama dalam bahasa Melayu (Malaysia) dengan pengertian yang sama.
    Adapun makna agama menurut istilah adalah kepercayaan kepada Tuhan yang dinyatakan dengan mengadakan hubungan dengan-Nya melalui upacara, penyembahan, permohonan, dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau berdasarkan ajaran agama itu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online, agama adalah system yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan  manusia serta lingkungan hidupnya.                                                                       
    Agama Hindu dan Budha menyebarkan kata agama di kepulauan Nusantara ini, diambil alih oleh bahasa Melayu dan dilanjutkan oleh bahasa Indonesia. Selain dari arti agama yang telah disebutkan, menurut teori ada beberapa arti lain yang dikandung oleh perkataan agama. Salah satunya adalah tradisi atau kebiasaan dalam agama Hindu dan Budha. Setelah agama Islam datang ke Nusantara ini, masyarakat Nusantara yang berbahasa Melayu mempergunakan kata agama juga untuk menunjukkan system ajaran yang dibawa oleh Islam dengan system ajaran agama Hinda dan Budha.
    Ajaran agama Islam tidak berasal dari tradisi , tetapi dari Allah melalui wahyu-Nya, mengatur tata hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan manusia lain dalam masyarakat dan dengan lingkungan hidup-nya. Dalam bahasa aslinya agama Islam disebut din. Mulailah timbul kerancuan pengertian, karena lambang yang biasa dipakai dalam agama Hindu dan Budha dipergunakan untuk din al-Islam yang lain dari system ajaran dan ruanglingkupnya kalau dibandingkan dengan system ajaran agama yang mendahuluinya.
      Kemudian datang lagi agama Nasrani ke Nusantara ini, timbul istilah baru yang menunjukkan system dan ruanglingkup agama NAsrani. Istilah itu adalah religion yang berasal dari kata relegere dalam bahasa Latin. Artinya berpegang kepada norma-norma. Istilah religion sekarang diIndonesiakan menjadi religi, menguasai dan dipergunakan oleh kaum intelektual Indonesia terutapa para ahli antropologi dan sosiologi.
     Perkataan religi yang berasal dari bahasa Latin itu erat hubungannya dengan system dan ruanglingkup agama Nasrani yang menunjukkan hubungan tetap antara manusia dengan Tuhan saja. Kata religion diterjemahkan dengan agama juga dalam bahasa Indonesia/Melayu. Bertambah kekaburan dan kerancuan pengertian. Hal ini sangat kentara kalau dihubungkan dengan system dan ruanglingkup ajaran Islam. System dan ruanglingkup ajaran Nasrani dan Islam adalah berbeda, tetapi disebut dengan nama yang sama.
   Bagi orang Eropa, religion hanyalah mengatur hubungan tetap (vertical) antara manusia dengan Tuhannya saja. Menurut ajaran Islam, istilah din yang tercantum dalam surat al-Maidah (5):3 mengandung pengertian pengaturan hubungan manusia dengan Tuhann (vertical) dan hubungan manusia dengan manusia dalam masyarakat, termasuk dirinya sendiri, dan alam lingkungan hidupnya (horizontal). Kedua tata hubungan ini hablum mannallah wa hablum minannas (QS. Ali Imran (3):112) merupakan komponen yang berjalan dan berjalin dalam system ajaran Islam.
    Dari urain di atas jelas bahwa system dan ruanglingkup agama Nasrani, hanya mengarur hubungan hubungan manusia dengan Tuhan saja, sedangkan system dan ruanglingkup agama Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan dengan manusia dengan manusia, termasuk dirinya sendiri serta lingkungan hidupnya.

     D.  HUBUNGAN MANUSIA DENGAN AGAMA

Dalam masyarakat sederhana banyak peristiwa yang terjadi dan berlangsung di sekitar manusia dan di dalam diri manusia, tetapi tidak dipahami oleh mereka. Yang tidak dipahami itu dimasukkan ke dalam kategori gaib. Karena banyak hal atau peristiwa gaib ini menurut pendapat mereka, mereka merasakan hidup dan kehidupan penuh dengan kegaiban. Menghadapi peristiwa gaib ini mereka merasa lemah tidak berdaya. Untuk menguatkan diri, mereka mencari perlindungan pada kekuatan yang menurut anggapan mereka menguasai alam gaib yaitu Tuhan atau Dewa.                 Oleh karena itu hubungan manusia dengan Tuhan dan para Dewa menjadi akrab. Keakraban hubungan dengan Tuhan dan Dewa-Dewa itu terjalin dalam berbagai segi kehidupan; social, economi, kesenian dan sebagainya. Kepercayaan dan system hubungan manusia dengan Tuhan dan para Dewa itu membentuk agama. Manusia, karena itu dalam masyarakat sederhana mempunyai hubungan erat dengan agama. Gambaran ini berlaku seluruh dunia.                                                     Dalam masyarakat maju (modern) yang telah memahami peristiwa-peristiwa alam dan dirinya melalui ilmu pengetahuan, ketergantungan kepada kekuatan yang dianggap menguasai alam gaib dalam masyarakat sederhana, menjadi berkurang bahkan dibeberapa bagian dunia menjadi hilang. Perkembangan pemikiran manusia terhadap diri dan alam sekitarnya menjadi berubah.                   Agama Islam adalah agama keseimbangan dunia akhirat, agama yang  tidak mempertentangkan iman dan ilmu, bahkan menurut sunnah Rasulullah, agama yang mewajibkan manusia, baik pria maupun wanita, menuntut ilmu pengetahuan dari buain sampai ke liang lahat. Dengan ilmu ilmu kehidupan manusia akan bermutu, dengan agama kehidupan manusia akan lebih bermakna, dengan ilmu dan agama kehidupan manusia akan sempurna dan bahagia. Karena itu pula, dalam kehidupan masyarakat modern pun agama  tetap diperlukan manusia.                                                                                         Di kalangan cendikiawan muslim Indonesia ada pemikiran untuk memadukan ilmu dengan agama, mengendalikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan agama agar ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar menjadi alat untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Pengembangan dan penerapan teknologi di Indonesia, demikian dalam GBHN 1993, harus senantiasa antara lain, berpedoman pada nilai-nilai agama yang dalam GBHN 1993 disebut dengan istilah keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.                                                                                           Nilai agama, karena itu dan budaya Indonesia akan menjadi pengendali perkembangan sains dan teknologi di tanah air. Kalau dirumuskan secara singkat, pengembangan iptek (ilmu dan teknologi) harus selaras dan menyatu dengan pengembangan imtak (iman dan takwa) sebagai komponen inti ajaran agama. Seperti contohnya teknologi kedokteran, tidak boleh dipergunakan merusak manusia dan kehidupan manusia.

Related Posts:

0 Response to "Pengertian Manusi Dan Alam Semesta"

Post a Comment