Hubungan antar kelompok
KONSEP KELOMPOK DAN
HUBUNGAN ANTARAKELOMPOK
Pada bab ini kita akan membahas pada
hubungan antar-kelompok (intergroup relations) , hubungan antara dua kelompok
atau lebih yang mempunyai cirri khusus, Pettigrew (1968;277) mendefinisikan
intergroup relation sebagai “the social interactions between any two or more
grups”.
Dalam pembahasan kita mengenai
kelompok kita telah melihat tipologi kelompok menurut Robert bierstedt, yaitu
pembagian dalam empat tipe kelompok yaitu stastical group, societal grup,
social grup, dan associational grup. Dalam pembahasan kita mengenai hubungan
antar kelompok, yang dimaksud kan kelompok mencakup keempat tipe kelompok yang
disebut oleh bierstedt tersebut. Dengan demikian kita menggunakan konsep
kelompok dalam arti luas.
KLASIFIKASI KELOMPOK YANG TERLIBAT
DALAM HUBUNGAN ANTARKELOMPOK
Dalam pembahasan berikut ini kata
kelompok dalam konsep hubungan antarkelompok mencakup semua kelompok yang
diklasifikasikan oleh kinloch (1979). Criteria pertama yang disebutkan kinloch
terdiri atas cirri fisiologis. Atas dasar ini dijumpai pengelompokan yang
didasarkan pada persamaan jenis kelamini (laki-laki-perempuan), usia
(tua-muda), dan ras (antara lain hitam-putih).
Criteria kedua adalah kebudayaan.
Menurut kinloch kategori ini mencakup yang diikat oleh persamaan kebudayaan,
seperti kelompok etnik (misalnya aceh, minangkabau, minahasa, ambon, dayak dan
sebagainya), agama (islam, Kristen, budha, hindu, dan sebagainya).
Criteria ketiga adalah criteria
ekonomi, kinloch membedakan antara mereka yang tidak mempunyai kekuasaan
ekonomi dan mereka yang mempunyainya.
Criteria yang terakhir ialah
perilaku, pengelompokan berdasarkan cacad fisik, berdasarkan cacad mental, dan
penyimpangan terhadap aturan masyarakat.
DIMENSI HUBUNGAN ANTARKELOMPOK
Hubungan antarkelompok mempunyai
berbagai dimensi , dalam hubungan ini kinloch mengemukakan bahwa factor yang
mempengaruhi kelompok minoritas dapat
dikaji dengan menggunakan enam dimensi berlainan. Dimensi utama yang dijabarkan
nya ialah dimensi sejarah, dimensi demografi, dimensi sikap, dimensi institusi,dimensi gerakan sosial, dan dimensi tipep utama hubungan antarkelompok. Disini
kita akan membatasi diri pada empat dari enam dimensi tersebut, yaitu dimensi
sejarah, dimensi sikap, dimensi institusi, dan dimensi gerakan sosial.
Dimensi sejarah ini diarah kan pada
masalah tumbuh dan kembangnya hubungan antarkelompok, misalnya kontak pertama
antara kelompok ras kulit putih dan kulit hitam terjalin.
Dimensi gerakan sosial merupakan
suatu dimensi lain dalam hubungan antarkelompok. Kajian sudut pandang ini
memperhatikan berbagai gerakan sosial yang sering dilancarkan suatu kelompok
untuk membebaskandiri dari dominasi kelompok lain; misalnya gerakan ANC
(African national congress) direpublik afrika selatan , atau gerakan kelompok
usia lanjut (grey panthers) , gerakan pembebasan perempuan (womens liberation
movement), gerakan kulit hitam modern NAACP (national association for the
advancement of colored people) dan gerakan kulit hitam radikal black panthers
di amerika serikat.
Disamping itu dimensi yang telah
disbutkan kinloch dalam hubungan antarkelompok masih ada dimensi lain yang
perlu kita perhatikan , yaitu dimensi perilaku dan dimensi perilaku kolektif.
Dimensi prilaku adalah perilaku satu
kelompok terhadap anggota kelompok lain, seperti misalnya perilaku
diskriminatif dan pemeliharaan jarak sosial. Selain itu hubungan antarkelompok
pun sering diwarnai oleh peristiwa perilaku kolektif seperti demonstrasi
protes, huru-hara, perusakan dan pembunuhan serta bentrokan fisik seperti
misalnya konflik terus-menerus antara anggota African national congress dengan
orang zulu pengikut anggota gerakan zulu inkatha freedom movement yang pernah
terjadi di afrika selatan dan telah mengakibatkan jatuhnya korban ribuan jiwa
dan sejumlah besar harta benda di kedua belah pihak, atau pembunuhan
besar-besaran oleh kaum mayoritas hutu terhadap kaum minoritas tutsi dirwanda
yang menelan korban ratusan jiwa manusia. Menjelang abad ke 20 massyarakat kita
pun dilanda bentrokan fisik antarkelompok , antara lain dikabupaten sambas ,
provinsi Maluku dan timor timur.
KELOMPOK MAYORITAS DAN MINORITAS
Pembahasan mengenal hubungan antarkelompok merupakan
pembahasan mengenai stratifikasi sosial, bilamana kita berbicara mengenai dua
kelompok yang berada dalam strata berbeda atas dasar adanya ketidaksamaan dalam
berbagai bidang kekuasaan, prestise,
privilese. Dengan demikian tidak lah mengherankan bilamana antara kedua pokok
bahasan stratifikasi sosial dan hubungan antarkelompok banyak dijumpai tumpang
tindih.
Kalau kita mencari perbedaan, maka
perbedaan yang kita jumpai cenderung terletak pada penekanan, pembahasan
mengenai stratifikasi sosial biasanya lebih cenderung diarahkan pada deskripsi
dan penjelasan gejala perbedaan status sosial dalam masyarakat, terutama
perbedaan kelas sosial, sedanngkan pembahasan mengenai hubungan antarkelompok
yang statusnya berbeda, terutama yang menyangkut status yang diperoleh sejak
lahir seperti status sebagai anggota suatu kelompok ras, etnik atau agama.
Kinloch mendefinikan mayoritas
sebagai berikut : any power group that defines itself as normal and superior
and other as abnormal and inferior on the basis of certain perceived
characteristic and exploits or discriminates against them in consequence
(kinloch, 1979:38)
Dari
definisi ini, dapat kita jumpai beberapa unsure. Mayoritas didefinisikan nya
sebagai suatu kelompok kekuasaan; kelompok tersebut menganggap dirinya normal,
sedangkan lebih rendah karena nilai mempunyai cirri tertentu; atas dasar
anggapan tersebut kelompok lain itu mengalami eksploitasi dan diskriminasi.
Cirri tertentu yang dimaksud kan disini ialah cirri fisik, ekonomi, budaya dan
perilaku.
Dalam definisi kinloch ini
dikelompok mayoritas ditandai oleh adanya kelebihan kekuasaan; konsep mayoritas
tidak dikaitkan dengan jumlah anggota kelompok. Menurut kinloch mayoritas dapat
saja terdiri atas sejumlah kecil orang yang berkuasa atas sejumlah besar orang
lain.
Kalau kita
berpegang pada definisi kinloch , maka di masa masih berlakunya system
apartheid kelompok kulit putih di republic afrika selatan merupakan kelompok
mayoritas karena menguasai kaum kulit hitam meskipun jumlah orang kulit putih
jauh lebih kecil daripada jumlah orang kulit hitam.segi ini penting
diperhatikan, karena ada ilmuwan sosial perpendapat bahwa konsep mayoritas
didasarkan pada keunggulan jumlah anggota.
Sehubung dengan konsep mayoritas
ini, ada baiknya kita melihat konsep kebudayaan mayoritas domain yang diangkat
Edward M. Bruner dari penelitiannya dikota medan dan bandung, menurut nya ada
tidak nya suatu kebudayaab mayoritas domain menentukan bentuk hubungan antar
kelompok disuatu wilayah. Medan merupakan suatu kota yang terdiri atas sejumlah
minoritas tanpa adanya suatu kebudayaan domain sehingga antara kelompok etnik
yang ada berkembanng persaingan nya ketat dan hubungan antaretnis yang tegang,
sedangjan dikota bandung kebudayaan yang domain ialah kebudayaan sunda selaku
kebudayaan kelompok mayoritas sehingga disana pendatang harus menyesuaikan diri
dengan kebudayaan tersebutdan hubungan antaretnis yang ada bersifat lebih terbuka
atau santai.
RAS
Banton (967:55-76) mengemukakan bahwa kelompok ras dapat
didefinisikan secara fisik maupun secara sosial. Namun menurutnya kedua
definisi tersebut tidak pernah dapat identik , karena pendefinisian tersebut
tidak pernah dapat identik, karena pendefinisian secara fisik selalu mengalami
distori demi kepentingan definisi sosial sehingga antara definisi fisik dan
definisi sosial terjadi kesenjangan. Sebagai contoh banton mengajukan
pengalaman henry koster , yang mengisahkan bagaimana di brazil abad 19 seorang
berdarah campuran (mullato) diperlakukan sebagai orang kulit putij setelah ia
berhasil meraih posisi tinggi dalam masyarakat. Banton mengemukakan pula bahwa
banyak Negara bagian selatan amerika seorang yang mempunyai seorang nenek moyang
berkulit hitam secara sosial akan didefinisikan dan diperlakukan sebagai orang
kulit hitam, meskipun secara fisik ia berdarah campuran dan menurut warisan
genetika ia mungkin lebih banyak berdarah kulit putih.
Redfield (1943) pun melihat bahwa
konsep ras merupakan suatu gejala sosial yang berlainan dengan konsep ras sebagai
suatu konsep gejala biologis. Menurut nya apara ahli antropologi fisik tidak
akan menganggap orang yahudi sebagai suatu kelompok ras biologis, karena
menurut mereka persamaan antara mereka terlalu sedikit sedang kan persamaa
dengan anggota kelompok lain terlalu besqar. Dengan demikian redfield menjuluki
kaum yahudi sebagai kelompok yang secara sosial dianggap sebagai kelompok ras .
oleh larena kesukaran mengidentifikasikan orang yahudi secara fisik maka dikala
kaum nazi berkuasa dieropa orang yang dianggap sebagai warga ras yahudi wajib
memakai pita kuning atau bintang david.
Adanya keterkaitan antara
pengelomppokan sosial dengan cirri fisik Nampak dalam defrinisi v.d. berghe,
menurut nya ras berarti kelompok yang didefinisikan secara sosial atas dasar
criteria fisik (a grup that is socially defined but on the basis of physical criteria).
Menurut v.d. berghe sejumlah ilmuwan
sosial enggan menggunakan istilah ras dan lebih cenderung menggunakan istilah
kasta (caste), dengan pertimbangan bahwa sebenarnya kelompok ras mempunyai dua
cirri yang sama denngan kasta di india yaitu adanya endogamy dan status yang
tidak dapat berubah. Ia sendiri tidak keberatan atas penggunaan istilah kasta untuk
mengacu pada kelompok ras namun berusaha membedakan istilah kasta diindia
dengan istilah kasta dalam pengertian kelompok ras dengan jalan menggunakan
kasta ras (racial caste) atau kasta warna kulit (colour caste )
KELOMPOK ETNIK
Konsep kelompok etnik didasarkan
pada persamaan kebudayaan, francis (1947) mengklasifikasikan kelompok etnik
sebagai suatu bentuk gemeinschafht. Menurut francis, kelompok etnik merupakan
sejenis komunitas yang menampilkan persamaan bahasa, adat kebiasaan, wilayah,
sejarah, sikap, dan system politik.
Koentjaraningrat (1983) berpendapat
bahwa kedua konsep suku bangsa dan kelompok etnik bermakna sama namun
mengusulkan agar istilah kelompok etnik diganti dengan istilah golongan etnik
atau suku banngsa dengan alas an bahwa suku bangsa bukan kelompok melainkan
d=golongan. Yang dimaksud nya dengan golongan adalah kategori sosial. Istilah
golongan digunakan pila oleh mely G. tan , yang mengedit buku berjudul golongan
etnikl tionghoa di indonesi (1979).
RASISME
Menurut kornblum (1989:292) racism is
an ideology based on the belief that an observable, supposedly inherited trait
, such as skin color, is a mark of inferiority that justifies the
discriminatory treatment of people with that trait.
Disini rasisme
didefinisikan sebagai suatu ideology. Ideology ini didasarkan pada keyakinan
baahwa cirri tertentu yang dibawa sejak lahir menandakan bahwa pemilik cirri
tersebut lebih rendah sehingga mereka dapat diskriminasi.
SEKSISME
Para
penganut ideologi ini misalnya percaya bahwa dalam hal kecerdasan dan kekuatan
fisik laki-laki melebihi perempuan, atau bahwa perempuan lebih emosionallisme
dari pada laki-laki. Atas dasar ideology ini dilakukan diskriminasi terhadap
perempuan ; dalam hal pendidikan dan pekerjaan , misalnya perempuan sering ditempatkan
pada posisi yang kurang memerlukan kecerdasan dan kekuatan, fisik dan lebih
menghendaki kecermatan dan emosi. Kita pun mendengarkan bahwa para karyawati
muda terutama yang belum berkeluarga sering mengalami godaan dan gangguan pihak
atasan atau rekan laki-laki sekantor yang mengarah ke hubungan seks (pelecehan
seksual atau sexual harassment). Dalam masyarakat kita masih menjumpai orang
tua yang lebih mengutamakan pendidikan formal bagi anak laki-laki dari pada
bagi anak perempuan mereka dengan mengemukakan bahwa pendidikan terlalu tinggi
bagi anak perempuan tidak perlu karena akhirnya mereka akan menjadi ibu rumah
tangga.
merasa berhak menentukan jurusan yang dipilih putrinya. Tidak
jjarang anak perempuan yang ingin melanjutkan studi dibidang yang cenderung
ditekuni anak laki-laki seperti misalnya matematika, ilmu pengetahuan alam dan
teknolohi . terpaksa mengurungkan niat karena orang tua mereka mengarah kan
mereka ke bidang yang menurut penilaian merekla jauh lebih cocook dengan
“kodrat perempuan” seperti bidang pendidikan dan keguruan , kesejahteraab
keluarga , kesekretariatan dan keperawatan. Dalam berbagai masyarakat perempuan
tidak mempunyai hak pilih.
AGEISM
Ideology
dikaitkan dengan cirri yang bahwa sejak
lahir ialah ideology bahwa orang pada usia tertentu layak di diskriminasi kan
karena mereka kurang mampu apabila dibandingkan dengan orang dalam kelompok
usia lain. Dalam hal pendapatan, misalnya, orang dibawah umur dan orang berusia
lanjut enderung menerima lenih sedikit daripada orang dewasa yang berada dalam
usia kerja karena adanya ideology bahwa orang pada usia kerja lebih produktif
dari pada anak-anak atau orang berusia lanjut. Dibidang kekuasaan kita sering
menjumpai bahwa orang yang berada pada usia kerja pun cenderung mengambil keputusan-keputusan
yang,menyangkut nasib anak dibawah umur serta orang berusia lanjut, seperti
misalnya keputusan mengenai pilihan pendidikan , pemenuhan keperluan pokok,
besarnya tunjangan pension dan sebagainya dengan alas an bahwa orang dewasa
berusi akerja lebih mengetahui apa yang baik bagi anak-abak dan orang berusia
lanjut.
Stratifikasi
berdasarkan kesehatan mental pun melibatkan perbedaan kekuasaan , prestise dan
privilese.Orang yang dinilai cacat mental oleh masyarakat harus tunduk pada
kekuasaan orang yang dinilai bermental sehat. Berulang kali kita memperoleh
informasi dari media masa bahwa diberbagi daerah kita orang yang dianggap dakit
jiwa dipasung oleh keluarganya. Dalam masyarakat industry maju orang yang dianggap sakit jiwa seringkali dirawat
dirumah sakit jiwa untuk jangka waktu lama diluar kehendak mereka. Dibidang
pretise dan privilese status merela rendah pula karena merea dinilai tidak
mampu bertindak mandiri sehingga dalam semua urusan harus diwakili orang lain.
RASIALISME
Dikala kita berbicara mengenai
rasisme kita berbicara mengenai ideology yang membenarkan diskriminatif berbicara terhadap anggota kelompok ras lain. Apabila kita berbicara
tentang rasialisme , dipihak lain, kita
tidak berbicara mengenai ideology melainkan mengenai praktik diskriminasi
terhadap kelompok ras lain. Praktik berupa penolakan menjual atau menyewakan
rumah atau lamaran masuk sekolah yang diajukan oleh anggota kelompok rasa tau
etnik tertentu. Apabila rasialisme dibeberapa Negara eropa, yang antara lain
berbentuk serangan fisik kelompok pemuda kulit putih terhadap orang asing
seperti [ara migrant dan pengungsi dari timur tengah yang telah membawa korban
jiwa dan harta benda.
Itu lah makalah sosiologi tentang "hubungan antar kelompok" mungkin dapat membantu anda,Terima kasih.

0 Response to "Makalah Sosiologi "Hubungan Antar Kelompok""
Post a Comment